Tragedi Bayi Prematur di Bali: Meninggal Pertahankan Nyawa 8 Hari, Keterbatasan Fasilitas dan Dokter Spesialis Disorot

‎Balimediapartner.id | DENPASAR — Sebuah peristiwa memilukan yang menimpa pasangan suami istri di Bali mendadak menjadi sorotan publik. Seorang bayi yang lahir secara prematur dilaporkan meninggal dunia setelah bertahan selama delapan hari dalam kondisi kritis di RSUD Bali Mandara. Penanganan medis diduga berjalan sangat terbatas akibat minimnya ketersediaan dokter spesialis serta terkendalanya proses rujukan akibat penuhnya kapasitas ruang perawatan intensif bayi (Neonatal Intensive Care Unit/NICU) di rumah sakit rujukan utama.

‎Berdasarkan keterangan orang tua korban, Winda, kejadian bermula saat ia mengalami pendarahan hebat di kawasan Jimbaran. Lantaran fasilitas kesehatan awal di wilayah tersebut tidak memiliki ruang NICU, ia dirujuk ke RSUD Bali Mandara dan melahirkan bayi prematur dengan berat badan sekitar 900 gram melalui operasi sesar.

‎Pascapersalinan, bayi tersebut langsung mendapatkan perawatan intensif di ruang NICU. Kendati sempat menunjukkan kenaikan berat badan, memasuki pekan kedua perawatan kondisi kesehatan bayi justru menurun drastis, ditandai dengan indikasi pembengkakan pada bagian perut.

‎Pihak keluarga menyayangkan penanganan medis di RSUD Bali Mandara yang dinilai kurang maksimal dalam merespons kondisi darurat tersebut. Dari penuturan keluarga, RSUD Bali Mandara belum memiliki dokter spesialis bedah anak, dokter spesialis jantung anak, serta ruang operasi yang memadai untuk tindakan pembedahan bayi.

‎”Di Jimbaran tidak ditangani karena tidak ada NICU, lalu dirujuk ke Bali Mandara. Setelah operasi sesar, bayi dimasukkan ke NICU. Sempat ada kenaikan berat badan, tetapi beberapa hari lalu perutnya membesar. Kemudian mau dirujuk ke RS Sanglah, tetapi rumah sakitnya penuh padahal kondisi adik sangat kritis,” ungkap Winda.

‎Ia menambahkan, tanpa keberadaan dokter spesialis bedah dan jantung anak, intervensi medis yang dapat diberikan di RSUD Bali Mandara terbatas pada pemberian obat-obatan dan alat bantu napas (ventilator).

‎”Penanganan hanya pengobatan dan ventilator saja karena tidak bisa dilakukan tindakan lain selain menunggu dokter bedah dari RS Sanglah dan ketersediaan ruang NICU-nya. Pihak RS Bali Mandara sudah menghubungi RS Sanglah setiap 15–20 menit, tetapi tetap tidak bisa menerima karena penuh,” lanjutnya.

‎Upaya memindahkan pasien ke rumah sakit lain pun menemui jalan buntu. Beberapa rumah sakit yang dihubungi menolak rujukan mengingat kondisi bayi yang mengalami komplikasi berat dan memerlukan penanganan khusus.

‎Selain masalah ketersediaan fasilitas, pihak keluarga juga mengeluhkan konsistensi tim medis yang menangani pasien selama masa perawatan kritis. “Dokter utamanya Dokter Dayu, tetapi untuk dokter jaga selalu berganti-ganti setiap harinya,” tambah Winda.

‎Menanggapi keluhan keluarga pasien dan perhatian luas dari masyarakat, pihak Humas RSUD Bali Mandara mengonfirmasi bahwa manajemen rumah sakit saat ini tengah melakukan investigasi internal.

‎Proses penelusuran difokuskan untuk mengidentifikasi jajaran tim dokter yang bertugas, menyusun kronologi medis secara rinci, serta memastikan penyebab pasti dari kematian bayi tersebut. Pihak RSUD Bali Mandara dijadwalkan akan menerbitkan pernyataan resmi (official statement) setelah seluruh proses verifikasi dan investigasi internal selesai dilaksanakan.

‎Tragedi ini menjadi catatan dan evaluasi krusial bagi sistem pelayanan kesehatan darurat neonatal di Bali, terutama terkait pemerataan sebaran dokter spesialis anak, kesiapan ruang operasi darurat, hingga daya tampung kapasitas fasilitas NICU bagi bayi berisiko tinggi. (Tim/BMP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *